SeLaMaT dAtAnG dI cHiKi'e SiTe...

Minggu, 20 November 2011

Song of Seoul (Chap. 7)


=======II=======

Gadis itu menolak sepedanya dengan santai, rambut panjangnya yang berwarna hitam, begerak-gerak tertiup angin, tidak diikat. Aku tau ayahnya mencoba menjaganya, karena itu dia menyupiri dengan sangat lamban, mengikuti Putrinya. Dan lalu di persimpangan jalan gadis itu tiba-tiba menghilang. Han Ajeossi,, begitulah aku memanggilnya sekarang, menoleh kesana kemari mencari jejak putrinya.

Hingga sampai di gerbang sekolahpun Han Ajeossi pun belum menemukanya. Aku turun, teman-temanku seperti biasa menyambut di Lobi sekolah. Saling member salam dan tepukan seperti biasa, ketika aku melihat rambut hitamnya berkibar-kibar, aku menoleh ke arah Han Ajeossi, dia juga sudah melihatnya, wajahnya tersenyum.

Yuna, menolak sepedanya kencang, entah bagaimana tidak menabrak siapapun padahal jalanan sekolah sedang ramainya. Saat matanya melihat ayahnya yg tersenyum dia langsung melewatinya begitu saja,tanpa tersenyum, membuat ayahnya syok seketika. “Eish.. anak itu benar-benar…”

Tapi belum jauh Yuna sudah berbalik, mendekati Appanya. Dengan wajah sedikit malu, dan kikuk Yuna bertanya. “Dimana—aku harus memarkirkan sepedaku?”, ternyata dia berbalik karena tidak tau dimana harus menaruh sepedanya, membuat Seung Ho terkikik sembunyi-sembunyi. Setelah diberitahu Ayahnya dan kemudian menaruh sepedanya, Yuna kembali, berlari melewati ayahnya, lagi. Dia berkata “Aku bisa mengurusi administrasi sediri” tanpa berhenti di dekat ayahnya.

Seung Ho melihat Yuna menghilang, Han Ajeossi hanya mendesah lalu masuk kemobil, setelah sebelumnya berpesan pada Seung Ho kalau dia akan berjaga diluar. Hal itu membuat Seung Ho sebal.

Bukannya apa-apa, ayahnya terlalu berlebihan. Dia tau ayahnya menjadi overprotective sejak kejadian-kejadian buruk yang menimpanya akhir-akhir ini, dari kehilangan Laptopnya, kepala nyaris bocor tertimpa pot, diserempet motor hingga yang terakhir rem mobilnya jebol dan dia nyaris tertabrak truk tronton, kalau saja dia ngebut. Tapi dia tidak ngebut, jalannya pelan dan dia hanya menabrak tiang. Laptop hilang tidak masalah, hanya saja beberapa data didalamnya sangat penting baginya. Lain lagi masalah pot jatuh atau diserempet itu hanya kesialan belaka baginya. Tapi tidak bagi ayahnya, Ayahnya langsung menghubungi temannya yang baru saja berduka atas kehilangan istrinya, memintanya ke Korea untuk menjadi Bodyguardnya.

Banyak orang bersedia menjadi bodyguardnya bahkan dia sudah punya banyak, tapi kenapa harus memanggil dia? Seung Ho bukannya tidak suka pada Han Ajeossi, dia hanya sedikit heran. Kalau memang ada yang berniat jahat padanya, bukankah itu sudah biasa?

Siapa yang tidak kenal Kim Seung Ho? Pewaris tunggal Kim Interprise, yang merajai seluruh bisnis di Asia yang sekarang mulai merambah ke Eropa. Pria dengan kekayaan yang bahkan melebihi Pangeran Korea. Dia sudah sering di culik sejak kecil, karena itu dia belajar bela diri dan dia sudah sangat jago sekarang. Piala-piala diruang tamu keluarganya menjadi bukti, yang sudah sering kali dibangga-banggakan ibunya.

Jadi kenapa harus memanggil Han Ajeossi? Apa kelebihannya dibandingkan dengan Bodyguard-bodyguardnya yang lain?

=======II=======

Song of Seoul (Chap. 6)


Sekolahnya baru akan mulai senin depan, Bibi sudah menyelesaikan Administrasinya sebelum dia tiba di korea. Dibantu oleh Tuan Kim. Yuna akan menghabiskan pendidikannya di sekolah yang sama dengan putranya. Ayahnya sebenarnya ingin memasukan Yuna ke sekolah biasa saja, tapi Tuan Kim memaksa, dia bahkan sudah mengurus segala halnya sebelum mendapatkan keputusan Ayah Yuna.

Dan akhirnya Yuna masuk ke Sekolah Elite di Seoul itu dengan beasiswa dari Tuan Kim yang merupakan Pemiliknya juga. Seragam dan segala perlengkapannya juga sudah disiapkan.

Yuna mengisi waktu sabtu dan minggu sebelum masuk sekolahnya dengan keliling Seoul. Mengunjungi beberapa took buku, jika tidak dia akan mengurung diri seharian. Roh ibunya sudah gatal ingin berkeliling Seoul, dan tidak terima melihat Putrinya mengurung diri terus di kamarnya. Memutuskan untuk berkeliling di kediaman Tuan Kim.

Ayah Yuna sudah bekerja mulai hari sabtu, hanya sempat menemui Yuna saat malam tiba.

=======II=======

Senin pagi.

Yuna yang sedang berkemas-kemas terkejut mendengarkan teriakan Ibunya.

“Ohmo,,, Yuna pakaian apa itu?”

Yuna bahkan tidak mendongak, dia menyampirkan tasnya lalu keluar kamar. Ibunya dibelakang mengukutinya mengomel. Ketika Yuna memperhatikan Ibunya memakai Dress bebeda hari ini. Masih berwarna putih, tapi modelnya berbeda, seperti seragam anak sekolahan.

Yuna masih berjalan kebelakang. Bibi Su Jinnya mempunyai sepeda yang sudah jarang dia pakai, Bibinya mengijinkan Yuna memakainya. Saat mengambil sepeda Bibinya muncul, nafasnya terengah-engah. Jarak dari ruang para pelayan berkumpul lumayan jauh dari sini.

“Yuna-yah,, Appamu memanggil.”

“Wae?” Yuna kebingungan.

“Dia ingin kamu ikut berangkat ke Sekolah bersamanya.” Ujar Bibi Sujin.

“Mwo? Ah Appa..”

Yuna menaiki sepedanya, menolaknya ke Lobi Depan. Menemukan ayahnya yang sedang membukakan pintu untuk si Tuan Muda.

“Yuna, Appa akan mengantarmu…” tawar ayahnya.

“No Way. Never. A…” balas Yuna dengan bahasa ibunya. Roh Ibunya yang entah sejak kapan sudah nangkring diboncengan sepedanya, mencubitnya.

“Jangan kasar pada Appamu!”

“Aku-naik-sepeda-saja” ulang Yuna pelan dan lebih halus. Ayah memandangku heran, bias wajahnya berubah sesaat. Si Tuan Muda sudah berada didalam mobil, ketika ayah mencoba membujukku, aku langsung tancap gas.

“Kau seharusnya ikut Appa mu, kan lebih enak naik mobil, kau bisa… hwaa liat itu? Ini seperti didalam film-film korea itu –aku memutar bola mataku—,, lihat itu.. lihat itu juga,,” usaha ibu untuk menasehatiku hilang dalam sekejap. Aku ingin menyahut kalau kita kan memang sudah di Korea, tapi aku terlalu malas menanggapinya.