
Sekolahnya baru akan mulai senin depan, Bibi sudah menyelesaikan Administrasinya sebelum dia tiba di korea. Dibantu oleh Tuan Kim. Yuna akan menghabiskan pendidikannya di sekolah yang sama dengan putranya. Ayahnya sebenarnya ingin memasukan Yuna ke sekolah biasa saja, tapi Tuan Kim memaksa, dia bahkan sudah mengurus segala halnya sebelum mendapatkan keputusan Ayah Yuna.
Dan akhirnya Yuna masuk ke Sekolah Elite di Seoul itu dengan beasiswa dari Tuan Kim yang merupakan Pemiliknya juga. Seragam dan segala perlengkapannya juga sudah disiapkan.
Yuna mengisi waktu sabtu dan minggu sebelum masuk sekolahnya dengan keliling Seoul. Mengunjungi beberapa took buku, jika tidak dia akan mengurung diri seharian. Roh ibunya sudah gatal ingin berkeliling Seoul, dan tidak terima melihat Putrinya mengurung diri terus di kamarnya. Memutuskan untuk berkeliling di kediaman Tuan Kim.
Ayah Yuna sudah bekerja mulai hari sabtu, hanya sempat menemui Yuna saat malam tiba.
=======II=======
Senin pagi.
Yuna yang sedang berkemas-kemas terkejut mendengarkan teriakan Ibunya.
“Ohmo,,, Yuna pakaian apa itu?”
Yuna bahkan tidak mendongak, dia menyampirkan tasnya lalu keluar kamar. Ibunya dibelakang mengukutinya mengomel. Ketika Yuna memperhatikan Ibunya memakai Dress bebeda hari ini. Masih berwarna putih, tapi modelnya berbeda, seperti seragam anak sekolahan.
Yuna masih berjalan kebelakang. Bibi Su Jinnya mempunyai sepeda yang sudah jarang dia pakai, Bibinya mengijinkan Yuna memakainya. Saat mengambil sepeda Bibinya muncul, nafasnya terengah-engah. Jarak dari ruang para pelayan berkumpul lumayan jauh dari sini.
“Yuna-yah,, Appamu memanggil.”
“Wae?” Yuna kebingungan.
“Dia ingin kamu ikut berangkat ke Sekolah bersamanya.” Ujar Bibi Sujin.
“Mwo? Ah Appa..”
Yuna menaiki sepedanya, menolaknya ke Lobi Depan. Menemukan ayahnya yang sedang membukakan pintu untuk si Tuan Muda.
“Yuna, Appa akan mengantarmu…” tawar ayahnya.
“No Way. Never. A…” balas Yuna dengan bahasa ibunya. Roh Ibunya yang entah sejak kapan sudah nangkring diboncengan sepedanya, mencubitnya.
“Jangan kasar pada Appamu!”
“Aku-naik-sepeda-saja” ulang Yuna pelan dan lebih halus. Ayah memandangku heran, bias wajahnya berubah sesaat. Si Tuan Muda sudah berada didalam mobil, ketika ayah mencoba membujukku, aku langsung tancap gas.
“Kau seharusnya ikut Appa mu, kan lebih enak naik mobil, kau bisa… hwaa liat itu? Ini seperti didalam film-film korea itu –aku memutar bola mataku—,, lihat itu.. lihat itu juga,,” usaha ibu untuk menasehatiku hilang dalam sekejap. Aku ingin menyahut kalau kita kan memang sudah di Korea, tapi aku terlalu malas menanggapinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tulis komentar kamu disini ya