SeLaMaT dAtAnG dI cHiKi'e SiTe...

Kamis, 09 Juni 2011

Song Of Seoul (Chap. 5)


Sosok itu hanya mendongak, memandangku syok dan terkejut. Bibirnya terbuka dan tertutup, hendak berbicara tapi tidak bisa menemukan satupun kalimat yang pantas.

Aku memberikan pandangan ketus dan dingin yang biasa aku berikan pada ibuku saat dia bersikap bodoh. “ya ya ya aku bisa melihatmu, di Bandara, di pesawat, bahkan di kamarku di Bali. Menangis terus, bukankah hantu seharusnya tidak bisa menangis?”

“Mwo? Bagaimana? kau… kau bisa me-melihat Eomma?” Roh ibuku, memandangku tidak percaya.

Iya aku bisa melihatnya, aku bisa melihat roh atau jiwa dari orang yang sudah meninggal. Melihat mereka berkeliaran seperti saat mereka masih hidup. Aku sudah bisa melihat mereka sejak aku masih kecil. Sejak bayi kurasa, tapi kebanyakan bayi memang memiliki indra keenam yang membuat mereka sering menangis. Dan ketika aku mulai tumbuh, orang orang sering kali menganggap aku aneh karena suka bicara sendiri, padahal ada orang lain yang mengajakku berbicara. Dan ketika aku semakin besar, ibu bahkan pernah mengajakku ke psikiater dan sejak itu aku berhenti meladeni orang-orang,, bukan hantu-hantu itu.

“Ne…” jawabku, aku berbaring kembali. Mengambil buku agendaku.

“Bagaimana bisa? Bagai… sejak kapan? Kenapa kau tidak cerita pada Eomma?” tuntut ibu.

Aku memutar bola mataku, memandang ibu “Trus kenapa? Akan melapor kepada Appa dan membawaku ke psikiater lagi?”

“Appamu juga bisa melihat Eomma?” wajah ibu mendadak sumingrah, aku sudah biasa meladeni hantu yang baru bertemu dengan orang yang bisa melihatnya, pertemuan itu membuat mereka berpikir kalau itu artinya orang yang dia sayangi pasti bisa melihatnya juga. Melihat tatapan remehku, senyum ibu menghilang. “Tidak ya? Sejak kapan kau bisa melihat Eomma? Apa ibu saja? Apa hantu lain juga bisa kau lihat?”

“Kenapa Eomma berpenampilan seperti itu?” aku menjawab dengan pertanyaan. Ibu memandang dirinya, memakai Long Dress putih halus dan ringan. Bukan masalah baju yang ia kenakan, tapi dirinya. Bukannya bertubuh sesuai dengan usianya saat dia meninggal. Ibu justru bertubuh saat dia seusiaku, muda dan cantik. Sosoknya lebih feminim dariku. Aku pernah dengar kalau hantu bisa merubah penampilannya, menjadi sosok dirinya saat masih muda dulu, masa yang baginya merupakan masa penuh kejayaan. Jadi diusiakulah masa jaya ibu.

“Kenapa? Tidak boleh? Eomma kan hanya ingin terlihat muda,, Eomma suka tubuh hantu ini..” jawabnya sambil mengagummi tubuhnya yang berkilau keputihan, sosoknya terlihat terang yang misterius. “Eomma cantik kan?” ibu menekan pipinya yang kalo saja dia masih hidup pasti akan berwarna pink.

“EOMMA…” teriakku, aku paling tidak suka melihat ibu bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Tadi menangis sekarang memuji diri sendiri.

“Yaaak, Yuna kau tidak boleh berteriak seperti itu padaku, aku ini Eomma-mu”

“Wae? Wae ya? Kenapa aku tidak boleh? Tidak ada yang akan bilang aku bersikap kurang ajar, mereka hanya akan..”

“Bilang kau GILA.. kau GILA hahaha ngomong sendiri” sudah memotong perkataanku ibu malah tertawa, menertawakan pernyataannya sendiri, menertawakan anaknya sendiri.

“Yaak… EOMMAAAA…” aku mencari bantal yang tadi aku lempar kepadanya, sayang ibu kabur menembus pintu, ketika aku mengejarnya, membuka pintu kamarku, tanganku siap melempar. “Yaak EOMMA kembali kau..” teriakku. Tapi yang berada diluar bukan ibuku.

=======II=======

‘Kenapa dia? Tiba-tiba keluar dengan wajah seram seperti itu, hendak melempar bantal di tanganya. Dia berteriak memanggil ibunya, bukannya ibunya sudah meninggal?’

Kim Seung Ho yang sedang menyantaikan dirinya di Gazebo belakang, terkejut ketika mendengar pintu hanok dibuka dengan kasar. Seung Ho melihat Yuna berdiri memegang bantal seperti hendak melempar kearahnya. Matanya penuh kemarah seperti baru saja bertengkar dengan seseorang.

Kemudian tiba-tiba Yuna menutup pintu hanoknya, setelah sebelumnya memberikan pandangan sebal kepada Seung Ho.

“Ohmo,, kenapa dia? Apa dia tidak pernah diajari tersenyum? Galak sekali..” dengusnya. Niatnya untuk bermalas-malasan di Gazebo hilang sudah. Lebih baik dia kemarnya dan menyalakan komputernya untuk beronlineria dengan teman-temannya.

Song Of Seoul (Chap. 4)


Seoul, 12 Desember 2010

Tidak jauh dari Bandara International Incheon, tampak sebuah mobil sporty merah dengan bak terbuka, mobil mewah keluaran terbaru. Pemiliknya berbaring diatas kap depan, ditelinganya terpasang handshet yang tersambung ke Ipod. Sibuk mendengarkan lagu yang sedang hits di korea saat ini. Padahal di jok mobil, Ponsel LG warna hitam berkilat sedang berteriak dan bergetar. Setelah mencoba usaha yang ke 10, akhirnya si penelpon menyerah juga.

Udara yang dingin dan bisingnya suara pesawat yang datang dan pergi tidak juga bisa membangunkan si pemilik mobil mewah. Seorang pemuda belasan tahun, berpenampilan sporty, jaket kulit mewah, jeans hitam, dan sepatu olah raga merek ternama. Semua yang ia bawa tampaknya sangat pas ditubuhnya.

Ketika langit mulai bersemu orange, dan matahari memutuskan untuk beristirahat, barulah pemuda itu bangkit. Kembali ke kursi kemudi, memeriksa phonsel LGnya sambil menyalakan starter mobil sporty miliknya,

“yeol?” si pemuda terkejut sekaligus geli, dan ketika hendak mengubungi kembali, si penelpon sudah lebih dulu menghubungi, dengan sedikit malas si pemuda menekan tombol hijau di sebelah kanan ponselnya dan menyapa si penelpon “Yeoboseyo?”

“Tuan Muda,, ooo ohmo akhirya,, anda dimana? Tuan Besar dan Nyonya Besar panik karena anda kelua rumah tanpa ijin, ponsel anda juga tidak…” rentetan Sujin pembantu dirumahnya dalam sekali tarikan napas, lalu terdengar dari seberang suara Ayahnya yang berat dan keras sedang di landa amarah.

“Siapa? Apa anak sialan itu sudah bisa dihubungi? Berikan padaku!” bentak si Tuan Besar. Lalu merebut telpon dari pembantunya. “Dimana kau? Ayah sudah melarang mu keluar, beraninya kau mengecoh penjaga, lagipula SIM mu sudah ayah tarik, seharusnya kau tidak bisa keluar…. “

“Yeomo, tenangkan dirimu..” istrinya berusaha menenangkan suamiya. “Nak, cepat pulang jangan buat ayahmu marah lagi.” Serunya.

“aku sedang dalam perjalanan pulang eomeoni,, tenang abeoji saja” balasnya dan lalu menutup telpon.

“Sudah jangan membelanya, Seung ho ayah belum –tut tut tut- yeoboseyo? Yeoboseyo? Yeob…” sang ayah terdengar syok ketika sambungan terputus “di putus anak kurang ajar”

“sudahlah yeobo,, kita tunggu saja, lagi pula tamu kita sudah datang kan? Ayo kita sambut.” Rayu istrinya, sambil mengelus punggung si suami.

“Baiklah,, baiklah… ayo” suaranya terdengar pasrah.

=======II=======

Seung Ho nama pemuda itu, mengemudikan Mobil sporty mewahnya dengan kecepatan tinggi. Udara dingin yang semakin dingin membuatnya memutuskan menutup bak mobil. Jalan menuju Seoul terlihat cukup renggang memudahkannya mengemudi dengan leluasa. Tidak sampai satu jam dia sudah sampai di kediamannya. Sebuah kediaman yang luar biasa mewah, luas dan megah.

Sesampai di pintu depan Han Su Jin, salah satu pelayan dirumahnya sudah menunggu dengan panic, begitu melihatnya langsung mendekati majikan mudanya,

“Tuan Muda cepat masuk, sedang ada tamu, jadi jangan lewat ruang depan dan… Tuan muda tunggu…” Su Jin yang mencoba memperingatkan Tuan mudanya, justru tidak diacuhkannya.

Kim Seung Ho justru berjalan ke ruang depan, dimana biasanya keluarganya menerima tamu. Saat tiba disana dilihatnya orang tuanya sedang berbicara dengan seorang pria dan seorang anak gadis.

“Annyeong hashimnika,,, “ sapanya mencium pipi ibunya dan menepuk pundak ayahnya, dia tau itu kurang ajar tapi, niatnya untuk membuat ayah semakin marah, memenuhinya. Usil.

Seung Ho duduk di sandaran kursi disamping ibunya, menoleh kearah tamu keluarganya. Seorang pria paruh baya, kelihatan sangat kuat tersenyum padanya. Disampingnya seorang gadis yang.....

“mutiara hitam”bisiknya pelan seketika, tidak ada yang menoleh, tapi gadis itu menoleh memandangnya. Rambut panjang hitam berkilau tidak ada gradiasi warna kemerahan sama sekali. Matanya bulat besar, pipinya merah, bibirnya pink ke orange, wajahnya terlihat unik. Seung ho yakin gadis itu bukan orang korea asli. Kesan yang diberikan tidak hanya di wajahnya. Pakaiannya juga serba hitam, celana jeans hitam, kaus putih besar dengan gambar.. apa itu tengkorak?, jaket hoodie hitam dan sepatu bot hitam selutut. Sebuah boneka beruang seputih salju di pelukannya. Seluruh tubuhnya memperlihatkan kilauan hitam, berbeda dengan kesan hitam yang biasaya gelap, dia justru bercahaya, dan pas seperti mutiara hitam yang paling berkilau.

“Seung ho, perkenalkan ini Han Ki Joo,, teman ayahmu” lamunanya seketika buyar, si gadis tidak lagi menatapnya, justru memainkan boneka beruang seputih saljunya. “beliau yang akan menjadi supir sekaligus bodyguardmu mulai sekarang” jelas ibunya lagi.

Seung ho hanya memberikan anggukan kecil, si gadis memandang ayahnya dengan tatapan sebal.

“Ch’eoum peopgetsumnida…” sapa pria itu. “oh ya perkenalkan ini Putriku,, Yuna. Mulai hari ini akan sangat merepotkan kalian juga” lanjutnya.

Seung ho hanya mengangguk, tapi si gadis, Yuna malah memandangnya dingin.

“Sacangnim,, makan malam sudah siap..” Su Jin si pelayan tiba – tiba muncul mengingatkan, pandangannya jatuh ke dua orang tamu majikannya,, matanya tiba-tiba memerah.

“Su Jin-a,,, “ Han Ki Joo bangkit dan mendekati Su Jin. “Bagaimana kabarmu?”.

“Oppa,,” balas Su Jin dengan suara bergetar,, dan mulai menangis. Han Ki Joo mengelus punggun Su Jin, lalu menoleh pada putrinya. “Yuna beri salam pada bibimu.” Perintahnya.

Yuna bangkit, membungkukkan sedikit badannya, suaranya sangat pelan hingga tidak terdengar sama sekali. Ayahnya harus menariknya kehadapan bibinya agar bisa menyapa dengan baik. Setelah menyapa di memalingkan wajahnya, yang terlihat dingin dan kosong.

“Makan malam lah dengan kami?” ajakan Tuan rumah yaitu Tuan Kim, mengejutkan sebuah reuni kecil itu. Membuat Han Ki Joo dan adiknya menjadi sedikit kikuk.

“ah tidak, tidak usah, sungguh merepotkan, saya rasa sebaiknya saya ke kamar saja, Putri saya terlihat sudah lelah” tolaknya halus. “lagi pula kami sudah makan malam di bandara tadi”

“Tapi,, makanan dibandara belum tentu mengenyangkan, tidak apa?” desak Nyonya Kim.

“Iya makan malamlah bersama kami..” desak Tuan Kim.”sekalian ngobrol, sudah lama kita tidak bertemu, aku ingin ngobrol sekali denganmu. Dan jangan bersikap terlalu formal padaku”

Dan perdebatan pun berlanjut, Seung Ho menyilangkan kakinya menyaksikan upaya ayah dan ibunya mengajak si tamu makan malam. Dan si gadis terlihat kehabisan kesabaran ketika akhirnya dia berkata. “Appa makan saja, aku akan kekamar. Ajeomma dimana kamarku? Dan jangan membantah” dia memberikan lirikan dingin kepada ayahnya saat ayahnya hendak membantah.

“kutarik ucapanku” bisiknya lagi. Seluruh kesan cantik dan hitam berkilau ia telan lagi. Merasa si gadis ah.. Yuna kan tadi namanya tidak secantik dan berkilau seperti itu.

Dan Yuna pun pergi…

=======II=======

Bibi Su Jin mengantarku kebelakang rumah itu, dia juga membantuku membawa koper ayah.

“Aku hanya sempat melihat mu ketika kau baru lahir, dulu kau sangat keeciill sekali, tapi sekarang sudah sebesar ini..” kata Bibinya. Aku hanya mengangguk kecil. “maaf aku tidak bisa datang ke pemakaman ibumu..” lanjutnya lagi dan kemudian dia terdiam. Aku juga.

Dia membawaku ke bagian belakang rumah ini, dari depan rumah ini berstyle modern tapi di bagian belakangnya terhubung kepada jajaran rumah tradisional Korean “Hanok”.

“Tuan besar sangat suka gaya tradisional” jelas Bibi Su Jin ketika melihat tatapan heranku. Hanok dan Rumah Modern dibatasi oleh sebuah jembatan kayu yang di apit dua buah gazebo besar. Dan sebuah lapangan kecil di depannya. Bibi Su Jin berjalan ke sebuah Hanok yang mengarah langsung ke Rumah Modern.

“Oppa, maksudku Appamu akan tinggal di depan, agar mudah saat di perintahkan keluar masuk mengantar tuan muda, dulu ini kamarku, tapi karena kau sekolah dan jarak dari belakang ke pintu keluar lumayan jauh jadi aku putuskan pindah.” Ceritanya “tenang saja kamarnya sudah ku bersihkan” lanjut bibiku.

Aku tidak terlalu peduli dimana aku dapat, toh ayah tidak akan tinggal bersamaku. Dan aku tidak peduli sejauh mana pintu belakang. Bibi Su Jin memandangiku, sepertinya ingin berbicara lagi tapi tidak tau harus dimulai dari mana.

“oh ya,, bagaimana aku memanggilmu? Yuna atau Yoona, kau akan memakai nama korea disini kan? Jadi aku…”

“Yang mana saja boleh, terserah bibi” potongku, aku masuk kekamar lebih dulu. Sebuah kasur dan bantal di letak di pojok kamar. Di sebelahnya ada lemari baju dan buku. Dan didepannya sebuah meja tanpa kursi dilengkapi dengan seperangkat komputer. Aku meletakan tasku. Bibi meletakan koper ayah, sambil bergumam kalo ayah akan mengambilnya nanti kekamarku.

Yang pertama aku keluarkan adalah photo ibuku, bibi yang melihatnya langsung mendekat dan duduk disampingku. “Maafkan aku, aku tidak bisa datang ke pemakaman ibumu”.

“Tidak apa, lagipula ibu tidak dimakamkan, tapi di kremasi” jawabku sambil mengeluarkan semua barang-barangku.

Bibi Su Jin hanya mengangguk kecil. Dia bangkit dan mulai menata ranjangku. Aku tidak memperdulikannya, aku masih fokus pada kartu tarotku dan memandang sekeliling mencari tempat dimana aku bisa memakunya.

Ketika aku hendak bertanya, seseorang memanggil Bibi Su Jin.

“Nee,, tunggu sebentar. Yuna, Bibi harus bekerja, jika perlu sesuatu kau bisa mencari Bibi di belakang atau gunakan line telpon itu. Kau beristirahatlah dulu” aku hanya mengangguk. Menempelkan kartu tarotku didinding yang mengarah ke pintu masuk.

Perjalanan dari Indonesia ke Korea sungguh melelahkan. Padahal hanya duduk berjam-jam, badanku terasa kaku sekali. Aku memangambil photo ibu, berbaring sambil memandangnya. Rasanya sudah tidak terlalu rindu lagi, karena…

Saat itu tiba-tiba mendadak terdengar sebuah tangisan disamping ku. Tangisan yang sangat memilukan, tapi bukan seperti orang yang menangis meraung-raung, lebih ke rasa bersalah dan kasihan.

Aku meletakan pigura ibu, memejamkan mataku. Sebelah tanganku meraba-raba ke atas kasur yang aku tiduri, meraih bantal yang aku tindih, lalu…

“Yaaak, Eomma bisa tidak berhenti menangis?” teriakku sambil melempar bantalku ke sosok di pojokan kamarku.

Selasa, 07 Juni 2011

Song Of Seoul (Chap. 3)


Ngurah Rai International Airport.

Aku duduk melamun seperti biasa, menunggu pesawat transit menuju Jakarta yang terlambat datang, memeluk Boneka Beruang seputih salju yang aku dan teman-teman ku dapat di Zona Game kemaren.

Ayah membaca Koran di sebelahku, sekali-kali mencoba mengajakku berbicara. Prospek pindah ke korea ini agak membuatku sebal, tapi aku memang seperti itu, keras kepala.

Masih membekas dikepalaku perpisahan beberapa jam yang lalu, Kakek dan Nenekku dari Ibu hanya mengucapkan perpisahan dirumah, mereka sudah terlalu tua untuk dibawa perjalanan ke bandara. Paman, Made, Lina dan Ngurah lah yang mengantar. Susah melepaskan pelukan Lina, bahkan aku yakin dia berusaha menggagalkan kepergianku. Banyak janji yang harus aku ucapkan. Aku yang pendiam berubah menjadi sangat cerewet dan membuatnya tertawa seketika.

Seorang gadis di pojok palang pun ikut menangis melihat perpisahan kami, dia ikut mengusapkan air mata yang aku herankan, itu kan ga ada hubungannya sama dia sama sekali.

=======II=======

Lamunanku buyar saat panggilan untuk masuk ke pesawat terdengar, aku bangun dengan enggan. Ayah memandangku. Aku tau dia juga tidak ingin meninggalkan Bali, tanah dimana begitu banyak kenangan selama 20 tahun ini. Tapi saudaranya menelpon dan ada pekerjaan yang membutuhkannya. Sahabat lamanya membutuhkan kemampuan ayah dalam seni bela diri untuk menjadi Bodyguard Putranya. Ayah memang pandai bela diri, di Bali ayah mengajar sebagai Guru Taekwondo di sebuah sekolah bertaraf Internasional, membawa banyak piala untuk sekolah itu. Tapi bukankah banyak yang lebih jago di Korea? Kenapa harus ayah?.

“Karena Appa Hebat! Hahaha !” ayah mencoba melucu, tawanya berhenti ketika melihat tatapanku. “Sudahlah, jangan melihat ayah seperti itu, kau telihat tua untuk anak seusiamua.”

“Kita tidak punya siapa-siapa disana” balasku pelan,, aku bangkit, berjalan dengan gontai menuju pintu yang ditunjukan petugas.

Ayah memeluk lenganku, “Kita tinggal di rumah teman ayah. Disana Bibimu juga bekerja. Mereka yang memaksa menyediakan tempat tinggal. Lagi pula pekerjaan ayah bisa menyita waktu seharian”

“Hanya supir, disini Appa menjadi guru yang dihormati,,” sindirku, tanpa memandang wajah ayah.

“Appa berhutang banyak padanya, bahkan dengan nyawa pun tidak akan bisa Appa lunasi.” Appa tersenyum menenangkan. Aku pasrah, aku sudah di Bandara tidak ada gunanya juga ak protes, kami tetap akan berangkat hari ini ke Korea.

Dan ketika pesawat lepas landas, lagi-lagi dadaku terasa sesak, ingin menangis tapi bukan aku yang menangis, gadis di belakangku yang menangis, yang tadi ikut menangis di pojok palang terminal. Seandainya airmataku semudah itu keluar.

Aku melihat Appa mengeluarkan selembar photo, dia memandanginya dengan lembut dan penuh cinta. Aku melirik sekilas, photo itu adalah photo Ibu saat masih seumuranku, yang baru pacaran dengan ayah.

Kepalaku reflek memandang gadis dibelakang yang mulai menangis keras,

“Ohmo,…” gumamku pelan dan pasrah.


==NEXT==


_________________

*Ohmo : Ya Tuhan.

Chap berikutnya aku post nanti ya, lagi sibuk kerja nih. Pada penasaran kapan ketemunya ya? ya udh sabar aja ada di Chap 4 kok, so keep reading.

Song Of Seoul (Chap. 2)

3 bulan kemudian.

Aku sedang merapikan barang barang ibu ketika ayah mengetuk pintu kamarku.

“Appa baru dari sekolah mu, sayang. Administrasimu agak susah di urus, untung pamanmu punya kenalan di dinas, jadi kepindahanmu bisa diselesaikan lebih cepat.” Kata ayah sambil duduk di sampingku, mengambil sebuah buku besar hitam di depanku, ‘Tarot Untuk Bagaimana Memulainya’. “Kau akan membawa semua barang ibumu?”

“ne…” kataku singkat. Aku memang tidak akrab dengan ayah, pada ibukulah aku sangat dekat, bahkan kadang kami dikira kakak adik, karena kelaluan ibu seperti anak muda lainnya. Aku tidak punya banyak teman karena sifatku yang pendiam dan penyendiri.

“Syukurlah bahasa korea mu sangat bagus, kalo tidak kepindahan kita akan membuatmu sangat kerepotan” ayah meletakan buku Tarot itu ke dus kecil di depanku, suaranya terdengar serak. “kita akan memakainya sebagai bahasa sehari-hari disana”

“ne Appa” suaraku pun ikut serak pelan. Aku tidak suka suasana seperti ini, canggung dan keramahan yang dipaksakan. Bahasa koreaku memang bagus, karena ibuku sangat gencar melatihku, padahal ibuku adalah penduduk asli Bali, tapi dia selalu memintaku memakai bahasa korea sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Ayah justru berbeda, sebagai warga korea dia justru meminta memakai bahasa daerah kami, dan bahasa Balinya justru lebih lancer dari ibu.

Ibu selalu berbicara bahasa korea kepadaku dimana pun, terkadang jika marah bahasanya tercampur, Indonesia-Korea-Bali. Membuat nenek dan kakekku di desa terbengong-bengong tidak memahami artinya.

Aku berdiri, mencabut kartu Tarot di dinding kamarku, Kartu Tarot No. 9 yang berjumlah 9 lembar. Semuanya adalah pemberian teman ibuku yang sesama pecinta kartu Tarot dan Ramalan. Salah satunya bahkan diberikan oleh seorang Peramal terkenal yang sering muncul di televise Nasional. Ibuku merupakan murid kesayangannya, walaupun intelegensi ibuku dalam meramal sangat kurang. Aku memandang kartu-kartuku, yang semuanya diberikan padaku setelah kegagalan mereka dalam meramalku, kartu ke 9 selalu muncul dan membuat mereka benci kartu itu. Karena mereka tidak bisa mengetahui alasannya, tapi aku tau artinya.

Aku memasukan kartu itu ke kotak yang lain, ke kotak barang berhargaku. Ayah melihatnya dan hanya bisa menghelakan nafasnya. Dia tidak ingin aku membawa benda-benda yang menurutnya mistis belaka itu ke korea, tapi aku memaksa, ini adalah kenang-kenangan milik ibu yang tersisa, yang lainnya sudah di bakar karena kepercayaan teman-temannya, benda itu harus ikut di bakar.

Aku memperhatikan kamarku, melihat sekelilingnya. Kamarku kecil dan tidak ada banyak barang. Aku bukan kolektor perhiasan atau pita-pita, sebagian besar benda yang kumiliki berwarna hitam dan bergambar tengkorak. Bukan tengkorak yang seram berdarah-darah, tapi tengkorak yang kecil, putih dan entah kenapa bagiku terlihat sangat lucu. Bahkan teman-temanku pun iri melihat koleksiku, terutama pria.

Laptop pemberian ibu, tersimpan rapi di tasnya, yang tersampir di dinding kamarku. Laptop yang dulunya pink, tapi aku air brush dengan warna hitam pekat dan ada gambar hantu di depannya. Memikirkannya membuatku mengingat banyak kenangan. Ibu marah besar ketika melihat hasil kreasiku dan Made sepupuku. Hitam bukan warna favoritnya. Walaupun dia suka yang seram-seram, tarot dan sebangsanya. Pink adalah warna hidupnya, warna untuk anak perempuan, warna yang feminism, lembut dan apapun itu hanya membuatku dan Made mau muntah mendengarnya.

Aku merebahkan badanku, kesedihan yang tidak bisa aku keluarkan dan kehilangan yang sebentar lagi bertambah. Sedangkan tubuhku berkhianat karena mataku masih saja menolak untuk mengeluarkan air matanya. Rasanya lelah sekali tidak bisa menangis, aku memejamkan mata, tenggorokanku sakit. Mencoba untuk tidur. Mencoba untuk berpikir kalau ibu masih hidup, dan sedangan memasak di dapur, atau sedang ber hahahihi dengan teman-teman kartu tarotnya.

Rasa dingin bercampur hangat dan kontras tiba-tiba terasa dikamarku, serasa ada yang membelai, tapi aku tidak peduli.

=======II=======

Tubuhku tersentak, ketika mendengarkan ketukan pintu. Apa aku tidur?, kamarku gelap, sedikit cahaya orange mengisinya. Terdengar suara Made sepupuku diluar, menyerukan kalo teman-teman sekolahku datang bermain.

=======II=======

Mall Bali Galleria.

Semua memaksa aku keluar dari sarangku, itulah sebutan mereka untuk kamarku, karena aku suka sekali menghabiskan waktu dengan mendekam di kamar, kalau tidak membaca buku, mungkin browsing situs-situ aneh di laptopku. Walau banyak menggapku aneh karena hobiku, teman-temanku ini tetap setia. Mereka berusaha menghiburku yang sebenarnya sangat agak memaksa. Mereka tau kalau aku tidak bisa menangis dan butuh pelampiasan sehingga mereka membawaku ke Zona permainan yang ada di mall ini.

Hanya bertiga, tapi kami ribut sekali. Lina dan Ngurah yang sebenarnya sepasang kekasih ribut terus. Lina lebih memilih memihak aku, saat aku dan ngurah sedang bertarung tembakan zombie. Tanding basket, banyakan koin hingga duel dance. Semua games kami coba. Hanya bagian memutar bola keberuntungan aku kalah, Ngurah selalu mendapat Jackpot sedangkan aku hanya nilai 5 atau 10. Koin yang terkumpul kami tukar dengan Boneka beruang seputih salju. Setelah itu kami makan di kaki lima.

Aku tidak mau makan di restoran fast food, aku ingin makan di kaki lima karena aku tidak tau kapan lagi bisa makan masakan khas Bali yang sudah membesarkanku.

“Inget e-mail ya!” Lina mengingatkan ku untuk ke sekian kalinya. Mulutnya penuh dengan jukut pelecing kesukaannya. Ngurah yang masih mengunyah makannya hanya mengangguk.

“i-yah. Fesbuk ku masih sama, twitter juga, kalian bisa cek blogku kalo kalian inget aku punya blog” jawabku sambil memutar mata.

Ngurah dan Lina melotot seketika, membuatku memutar mataku sekali lagi. “Ya Tuhan” mereka terlalu takut membuka blogku, karena isinya bukan yang menyejukan mata. Dan mereka juga tidak suka membahasnya. Aku mengabil sup kepala ikanku. Mengisi tenggorokanku dengan bumbu-bumbu khas Bali yang sangat aku sukai.

Setelah makan, kami kepantai Kuta dan menghabiskan waktu kami disana sampai malam.

=======II=======

== NEXT ==

_____________

Yap, emang masih di Bali.. hahaha, gmana? bagus? ah banyak bacot deh gue. ya udh baca aja. dan msh ditunggu komentnya