Seoul, 12 Desember 2010
Tidak jauh dari Bandara International Incheon, tampak sebuah mobil sporty merah dengan bak terbuka, mobil mewah keluaran terbaru. Pemiliknya berbaring diatas kap depan, ditelinganya terpasang handshet yang tersambung ke Ipod. Sibuk mendengarkan lagu yang sedang hits di korea saat ini. Padahal di jok mobil, Ponsel LG warna hitam berkilat sedang berteriak dan bergetar. Setelah mencoba usaha yang ke 10, akhirnya si penelpon menyerah juga.
Udara yang dingin dan bisingnya suara pesawat yang datang dan pergi tidak juga bisa membangunkan si pemilik mobil mewah. Seorang pemuda belasan tahun, berpenampilan sporty, jaket kulit mewah, jeans hitam, dan sepatu olah raga merek ternama. Semua yang ia bawa tampaknya sangat pas ditubuhnya.
Ketika langit mulai bersemu orange, dan matahari memutuskan untuk beristirahat, barulah pemuda itu bangkit. Kembali ke kursi kemudi, memeriksa phonsel LGnya sambil menyalakan starter mobil sporty miliknya,
“yeol?” si pemuda terkejut sekaligus geli, dan ketika hendak mengubungi kembali, si penelpon sudah lebih dulu menghubungi, dengan sedikit malas si pemuda menekan tombol hijau di sebelah kanan ponselnya dan menyapa si penelpon “Yeoboseyo?”
“Tuan Muda,, ooo ohmo akhirya,, anda dimana? Tuan Besar dan Nyonya Besar panik karena anda kelua rumah tanpa ijin, ponsel anda juga tidak…” rentetan Sujin pembantu dirumahnya dalam sekali tarikan napas, lalu terdengar dari seberang suara Ayahnya yang berat dan keras sedang di landa amarah.
“Siapa? Apa anak sialan itu sudah bisa dihubungi? Berikan padaku!” bentak si Tuan Besar. Lalu merebut telpon dari pembantunya. “Dimana kau? Ayah sudah melarang mu keluar, beraninya kau mengecoh penjaga, lagipula SIM mu sudah ayah tarik, seharusnya kau tidak bisa keluar…. “
“Yeomo, tenangkan dirimu..” istrinya berusaha menenangkan suamiya. “Nak, cepat pulang jangan buat ayahmu marah lagi.” Serunya.
“aku sedang dalam perjalanan pulang eomeoni,, tenang abeoji saja” balasnya dan lalu menutup telpon.
“Sudah jangan membelanya, Seung ho ayah belum –tut tut tut- yeoboseyo? Yeoboseyo? Yeob…” sang ayah terdengar syok ketika sambungan terputus “di putus anak kurang ajar”
“sudahlah yeobo,, kita tunggu saja, lagi pula tamu kita sudah datang kan? Ayo kita sambut.” Rayu istrinya, sambil mengelus punggung si suami.
“Baiklah,, baiklah… ayo” suaranya terdengar pasrah.
=======II=======
Seung Ho nama pemuda itu, mengemudikan Mobil sporty mewahnya dengan kecepatan tinggi. Udara dingin yang semakin dingin membuatnya memutuskan menutup bak mobil. Jalan menuju Seoul terlihat cukup renggang memudahkannya mengemudi dengan leluasa. Tidak sampai satu jam dia sudah sampai di kediamannya. Sebuah kediaman yang luar biasa mewah, luas dan megah.
Sesampai di pintu depan Han Su Jin, salah satu pelayan dirumahnya sudah menunggu dengan panic, begitu melihatnya langsung mendekati majikan mudanya,
“Tuan Muda cepat masuk, sedang ada tamu, jadi jangan lewat ruang depan dan… Tuan muda tunggu…” Su Jin yang mencoba memperingatkan Tuan mudanya, justru tidak diacuhkannya.
Kim Seung Ho justru berjalan ke ruang depan, dimana biasanya keluarganya menerima tamu. Saat tiba disana dilihatnya orang tuanya sedang berbicara dengan seorang pria dan seorang anak gadis.
“Annyeong hashimnika,,, “ sapanya mencium pipi ibunya dan menepuk pundak ayahnya, dia tau itu kurang ajar tapi, niatnya untuk membuat ayah semakin marah, memenuhinya. Usil.
Seung Ho duduk di sandaran kursi disamping ibunya, menoleh kearah tamu keluarganya. Seorang pria paruh baya, kelihatan sangat kuat tersenyum padanya. Disampingnya seorang gadis yang.....
“mutiara hitam”bisiknya pelan seketika, tidak ada yang menoleh, tapi gadis itu menoleh memandangnya. Rambut panjang hitam berkilau tidak ada gradiasi warna kemerahan sama sekali. Matanya bulat besar, pipinya merah, bibirnya pink ke orange, wajahnya terlihat unik. Seung ho yakin gadis itu bukan orang korea asli.
Kesan yang diberikan tidak hanya di wajahnya. Pakaiannya juga serba hitam, celana jeans hitam, kaus putih besar dengan gambar.. apa itu tengkorak?, jaket hoodie hitam dan sepatu bot hitam selutut. Sebuah boneka beruang seputih salju di pelukannya. Seluruh tubuhnya memperlihatkan kilauan hitam, berbeda dengan kesan hitam yang biasaya gelap, dia justru bercahaya, dan pas seperti mutiara hitam yang paling berkilau.
“Seung ho, perkenalkan ini Han Ki Joo,, teman ayahmu” lamunanya seketika buyar, si gadis tidak lagi menatapnya, justru memainkan boneka beruang seputih saljunya. “beliau yang akan menjadi supir sekaligus bodyguardmu mulai sekarang” jelas ibunya lagi.
Seung ho hanya memberikan anggukan kecil, si gadis memandang ayahnya dengan tatapan sebal.
“Ch’eoum peopgetsumnida…” sapa pria itu. “oh ya perkenalkan ini Putriku,, Yuna. Mulai hari ini akan sangat merepotkan kalian juga” lanjutnya.
Seung ho hanya mengangguk, tapi si gadis, Yuna malah memandangnya dingin.
“Sacangnim,, makan malam sudah siap..” Su Jin si pelayan tiba – tiba muncul mengingatkan, pandangannya jatuh ke dua orang tamu majikannya,, matanya tiba-tiba memerah.
“Su Jin-a,,, “ Han Ki Joo bangkit dan mendekati Su Jin. “Bagaimana kabarmu?”.
“Oppa,,” balas Su Jin dengan suara bergetar,, dan mulai menangis. Han Ki Joo mengelus punggun Su Jin, lalu menoleh pada putrinya. “Yuna beri salam pada bibimu.” Perintahnya.
Yuna bangkit, membungkukkan sedikit badannya, suaranya sangat pelan hingga tidak terdengar sama sekali. Ayahnya harus menariknya kehadapan bibinya agar bisa menyapa dengan baik. Setelah menyapa di memalingkan wajahnya, yang terlihat dingin dan kosong.
“Makan malam lah dengan kami?” ajakan Tuan rumah yaitu Tuan Kim, mengejutkan sebuah reuni kecil itu. Membuat Han Ki Joo dan adiknya menjadi sedikit kikuk.
“ah tidak, tidak usah, sungguh merepotkan, saya rasa sebaiknya saya ke kamar saja, Putri saya terlihat sudah lelah” tolaknya halus. “lagi pula kami sudah makan malam di bandara tadi”
“Tapi,, makanan dibandara belum tentu mengenyangkan, tidak apa?” desak Nyonya Kim.
“Iya makan malamlah bersama kami..” desak Tuan Kim.”sekalian ngobrol, sudah lama kita tidak bertemu, aku ingin ngobrol sekali denganmu. Dan jangan bersikap terlalu formal padaku”
Dan perdebatan pun berlanjut, Seung Ho menyilangkan kakinya menyaksikan upaya ayah dan ibunya mengajak si tamu makan malam. Dan si gadis terlihat kehabisan kesabaran ketika akhirnya dia berkata. “Appa makan saja, aku akan kekamar. Ajeomma dimana kamarku? Dan jangan membantah” dia memberikan lirikan dingin kepada ayahnya saat ayahnya hendak membantah.
“kutarik ucapanku” bisiknya lagi. Seluruh kesan cantik dan hitam berkilau ia telan lagi. Merasa si gadis ah.. Yuna kan tadi namanya tidak secantik dan berkilau seperti itu.
Dan Yuna pun pergi…
=======II=======
Bibi Su Jin mengantarku kebelakang rumah itu, dia juga membantuku membawa koper ayah.
“Aku hanya sempat melihat mu ketika kau baru lahir, dulu kau sangat keeciill sekali, tapi sekarang sudah sebesar ini..” kata Bibinya. Aku hanya mengangguk kecil. “maaf aku tidak bisa datang ke pemakaman ibumu..” lanjutnya lagi dan kemudian dia terdiam. Aku juga.
Dia membawaku ke bagian belakang rumah ini, dari depan rumah ini berstyle modern tapi di bagian belakangnya terhubung kepada jajaran rumah tradisional Korean “Hanok”.
“Tuan besar sangat suka gaya tradisional” jelas Bibi Su Jin ketika melihat tatapan heranku. Hanok dan Rumah Modern dibatasi oleh sebuah jembatan kayu yang di apit dua buah gazebo besar. Dan sebuah lapangan kecil di depannya. Bibi Su Jin berjalan ke sebuah Hanok yang mengarah langsung ke Rumah Modern.
“Oppa, maksudku Appamu akan tinggal di depan, agar mudah saat di perintahkan keluar masuk mengantar tuan muda, dulu ini kamarku, tapi karena kau sekolah dan jarak dari belakang ke pintu keluar lumayan jauh jadi aku putuskan pindah.” Ceritanya “tenang saja kamarnya sudah ku bersihkan” lanjut bibiku.
Aku tidak terlalu peduli dimana aku dapat, toh ayah tidak akan tinggal bersamaku. Dan aku tidak peduli sejauh mana pintu belakang. Bibi Su Jin memandangiku, sepertinya ingin berbicara lagi tapi tidak tau harus dimulai dari mana.
“oh ya,, bagaimana aku memanggilmu? Yuna atau Yoona, kau akan memakai nama korea disini kan? Jadi aku…”
“Yang mana saja boleh, terserah bibi” potongku, aku masuk kekamar lebih dulu. Sebuah kasur dan bantal di letak di pojok kamar. Di sebelahnya ada lemari baju dan buku. Dan didepannya sebuah meja tanpa kursi dilengkapi dengan seperangkat komputer. Aku meletakan tasku. Bibi meletakan koper ayah, sambil bergumam kalo ayah akan mengambilnya nanti kekamarku.
Yang pertama aku keluarkan adalah photo ibuku, bibi yang melihatnya langsung mendekat dan duduk disampingku. “Maafkan aku, aku tidak bisa datang ke pemakaman ibumu”.
“Tidak apa, lagipula ibu tidak dimakamkan, tapi di kremasi” jawabku sambil mengeluarkan semua barang-barangku.
Bibi Su Jin hanya mengangguk kecil. Dia bangkit dan mulai menata ranjangku. Aku tidak memperdulikannya, aku masih fokus pada kartu tarotku dan memandang sekeliling mencari tempat dimana aku bisa memakunya.
Ketika aku hendak bertanya, seseorang memanggil Bibi Su Jin.
“Nee,, tunggu sebentar. Yuna, Bibi harus bekerja, jika perlu sesuatu kau bisa mencari Bibi di belakang atau gunakan line telpon itu. Kau beristirahatlah dulu” aku hanya mengangguk. Menempelkan kartu tarotku didinding yang mengarah ke pintu masuk.
Perjalanan dari Indonesia ke Korea sungguh melelahkan. Padahal hanya duduk berjam-jam, badanku terasa kaku sekali. Aku memangambil photo ibu, berbaring sambil memandangnya. Rasanya sudah tidak terlalu rindu lagi, karena…
Saat itu tiba-tiba mendadak terdengar sebuah tangisan disamping ku. Tangisan yang sangat memilukan, tapi bukan seperti orang yang menangis meraung-raung, lebih ke rasa bersalah dan kasihan.
Aku meletakan pigura ibu, memejamkan mataku. Sebelah tanganku meraba-raba ke atas kasur yang aku tiduri, meraih bantal yang aku tindih, lalu…
“Yaaak, Eomma bisa tidak berhenti menangis?” teriakku sambil melempar bantalku ke sosok di pojokan kamarku.