SeLaMaT dAtAnG dI cHiKi'e SiTe...

Selasa, 07 Juni 2011

Song Of Seoul (Chap. 1)

Hallo all!,, ini novel kesekian ku yang aku post di Blogku, after a years ga aktif - sebelumnya juga ga aktif sih - aku putusin ngepost Cerita yang aku buat. Ceritanya ttg pairing antara Yoo Seung ho ama Moon Geun Young. hanya nama mereka aku ubah sedikit.. buat Yoopies dibaca ya! (andai ak tau nama fanbase Geun Young)..

Pokoknya di baca trus di ripiu,, <---maksa banget!! hahaha

____________________________________________________________________


Bali, 22 September 2010

Sebentar lagi prosesi ngaben ibu akan berakhir, api yang membara yang membakarnya sudah mulai bergerak lemah, letupan letupan yang mengiringinya pun sudah mulai berkurang, kalaupun masih, sudah tidak terdengar. Tubuh utuh yang tadi di bakarnya sudah berubah menjadi seoonggok abu bercampur dengan abu kayu dan kain yang menutupi.

Para undangan berteduh di bawah pohon yang mengisi setra (pemakaman) disini, keluarga ku masih menangis kelelahan. Hanya aku dan ayah yang masih berdiri memandangi jasad ibuku di bakar. Ayah sesekali sesegukan memanggil nama ibuku.

Matahari sudah sangat tinggi ketika prosesi pembakaran selesai, beberapa tamu sudah mengundurkan diri, hanya sedikit kerabat dan teman ibu yang bersedia mengantar ayah dan aku ke pantai Lovina, disanalah pesan ibu minta di taburkan abunya. Jauh memang dari Tabanan. Tapi aku dan ayah bertahan karena kami sangat menyayangi ibu.

Sesampainya di Lovina, kami menyewa perahu untuk perjalanan ke tengah laut. Ditemani paman dan teman ayah. Yang lain menunggu di darat, tidak kuat menyaksikan upacara terakhir itu. Sesekali aku mendengar Paman berbicara dengan kru kapal. Mereka bilang ombak sangat ganas sejak seminggu kemaren bahkan sampai tadi siang, tapi baru beberapa jam lalu tiba-tiba mendadak tenang, anginnya pun hangat dan asin yang menyegarkan. Aku memeluk photo ibuku, hanya memandang hamparan laut dengan diam. Mataku merah tapi tidak menangis. Aku memang susah untuk menangis, bahkan sejak kecil ak tidak pernah menangis. Aku ingin menangis, tapi tidak ada setetespun air mata yang keluar, hal ini membuat nafasku sesak dan mataku sakit.

Kami sampai di tengah laut ketika matahari mulai tenggelam, wejangan-wejangan pengantar serasa nyanyian bercampur ombak lautan yang tenang. Abu ibuku mulai di taburkan ke lautan, ayah, paman bergantian mengambil abu dari pot dan menaburkan. Aku mengambil abu terakhir ibu, dan bukannya menaburkannya ke lautan, sebaliknya aku malah membiarkannya di tiup angin. Angin yang tadinya tenang, mendadak kencang sukses menaburkan abu ibu di udara. Tanganku tetap terjulur kedepan walau abu ibu sudah habis digenggamanku.

“omma,, annyong” bisikku lirih.


== next ==

_______________

Check this Note :

* Eomma : Panggilan buat Ibu di Korea, panggilan yang akrab (non form)

* Annyong : Selamat tinggal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tulis komentar kamu disini ya