
Ngurah Rai International Airport.
Aku duduk melamun seperti biasa, menunggu pesawat transit menuju Jakarta yang terlambat datang, memeluk Boneka Beruang seputih salju yang aku dan teman-teman ku dapat di Zona Game kemaren.
Ayah membaca Koran di sebelahku, sekali-kali mencoba mengajakku berbicara. Prospek pindah ke korea ini agak membuatku sebal, tapi aku memang seperti itu, keras kepala.
Masih membekas dikepalaku perpisahan beberapa jam yang lalu, Kakek dan Nenekku dari Ibu hanya mengucapkan perpisahan dirumah, mereka sudah terlalu tua untuk dibawa perjalanan ke bandara. Paman, Made, Lina dan Ngurah lah yang mengantar. Susah melepaskan pelukan Lina, bahkan aku yakin dia berusaha menggagalkan kepergianku. Banyak janji yang harus aku ucapkan. Aku yang pendiam berubah menjadi sangat cerewet dan membuatnya tertawa seketika.
Seorang gadis di pojok palang pun ikut menangis melihat perpisahan kami, dia ikut mengusapkan air mata yang aku herankan, itu kan ga ada hubungannya sama dia sama sekali.
=======II=======
Lamunanku buyar saat panggilan untuk masuk ke pesawat terdengar, aku bangun dengan enggan. Ayah memandangku. Aku tau dia juga tidak ingin meninggalkan Bali, tanah dimana begitu banyak kenangan selama 20 tahun ini. Tapi saudaranya menelpon dan ada pekerjaan yang membutuhkannya. Sahabat lamanya membutuhkan kemampuan ayah dalam seni bela diri untuk menjadi Bodyguard Putranya. Ayah memang pandai bela diri, di Bali ayah mengajar sebagai Guru Taekwondo di sebuah sekolah bertaraf Internasional, membawa banyak piala untuk sekolah itu. Tapi bukankah banyak yang lebih jago di Korea? Kenapa harus ayah?.
“Karena Appa Hebat! Hahaha !” ayah mencoba melucu, tawanya berhenti ketika melihat tatapanku. “Sudahlah, jangan melihat ayah seperti itu, kau telihat tua untuk anak seusiamua.”
“Kita tidak punya siapa-siapa disana” balasku pelan,, aku bangkit, berjalan dengan gontai menuju pintu yang ditunjukan petugas.
Ayah memeluk lenganku, “Kita tinggal di rumah teman ayah. Disana Bibimu juga bekerja. Mereka yang memaksa menyediakan tempat tinggal. Lagi pula pekerjaan ayah bisa menyita waktu seharian”
“Hanya supir, disini Appa menjadi guru yang dihormati,,” sindirku, tanpa memandang wajah ayah.
“Appa berhutang banyak padanya, bahkan dengan nyawa pun tidak akan bisa Appa lunasi.” Appa tersenyum menenangkan. Aku pasrah, aku sudah di Bandara tidak ada gunanya juga ak protes, kami tetap akan berangkat hari ini ke Korea.
Dan ketika pesawat lepas landas, lagi-lagi dadaku terasa sesak, ingin menangis tapi bukan aku yang menangis, gadis di belakangku yang menangis, yang tadi ikut menangis di pojok palang terminal. Seandainya airmataku semudah itu keluar.
Aku melihat Appa mengeluarkan selembar photo, dia memandanginya dengan lembut dan penuh cinta. Aku melirik sekilas, photo itu adalah photo Ibu saat masih seumuranku, yang baru pacaran dengan ayah.
Kepalaku reflek memandang gadis dibelakang yang mulai menangis keras,
“Ohmo,…” gumamku pelan dan pasrah.
==NEXT==
_________________
*Ohmo : Ya Tuhan.
Chap berikutnya aku post nanti ya, lagi sibuk kerja nih. Pada penasaran kapan ketemunya ya? ya udh sabar aja ada di Chap 4 kok, so keep reading.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tulis komentar kamu disini ya