3 bulan kemudian.
Aku sedang merapikan barang barang ibu ketika ayah mengetuk pintu kamarku.
“Appa baru dari sekolah mu, sayang. Administrasimu agak susah di urus, untung pamanmu punya kenalan di dinas, jadi kepindahanmu bisa diselesaikan lebih cepat.” Kata ayah sambil duduk di sampingku, mengambil sebuah buku besar hitam di depanku, ‘Tarot Untuk Bagaimana Memulainya’. “Kau akan membawa semua barang ibumu?”
“ne…” kataku singkat. Aku memang tidak akrab dengan ayah, pada ibukulah aku sangat dekat, bahkan kadang kami dikira kakak adik, karena kelaluan ibu seperti anak muda lainnya. Aku tidak punya banyak teman karena sifatku yang pendiam dan penyendiri.
“Syukurlah bahasa korea mu sangat bagus, kalo tidak kepindahan kita akan membuatmu sangat kerepotan” ayah meletakan buku Tarot itu ke dus kecil di depanku, suaranya terdengar serak. “kita akan memakainya sebagai bahasa sehari-hari disana”
“ne Appa” suaraku pun ikut serak pelan. Aku tidak suka suasana seperti ini, canggung dan keramahan yang dipaksakan. Bahasa koreaku memang bagus, karena ibuku sangat gencar melatihku, padahal ibuku adalah penduduk asli Bali, tapi dia selalu memintaku memakai bahasa korea sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Ayah justru berbeda, sebagai warga korea dia justru meminta memakai bahasa daerah kami, dan bahasa Balinya justru lebih lancer dari ibu.
Ibu selalu berbicara bahasa korea kepadaku dimana pun, terkadang jika marah bahasanya tercampur, Indonesia-Korea-Bali. Membuat nenek dan kakekku di desa terbengong-bengong tidak memahami artinya.
Aku berdiri, mencabut kartu Tarot di dinding kamarku, Kartu Tarot No. 9 yang berjumlah 9 lembar. Semuanya adalah pemberian teman ibuku yang sesama pecinta kartu Tarot dan Ramalan. Salah satunya bahkan diberikan oleh seorang Peramal terkenal yang sering muncul di televise Nasional. Ibuku merupakan murid kesayangannya, walaupun intelegensi ibuku dalam meramal sangat kurang. Aku memandang kartu-kartuku, yang semuanya diberikan padaku setelah kegagalan mereka dalam meramalku, kartu ke 9 selalu muncul dan membuat mereka benci kartu itu. Karena mereka tidak bisa mengetahui alasannya, tapi aku tau artinya.
Aku memasukan kartu itu ke kotak yang lain, ke kotak barang berhargaku. Ayah melihatnya dan hanya bisa menghelakan nafasnya. Dia tidak ingin aku membawa benda-benda yang menurutnya mistis belaka itu ke korea, tapi aku memaksa, ini adalah kenang-kenangan milik ibu yang tersisa, yang lainnya sudah di bakar karena kepercayaan teman-temannya, benda itu harus ikut di bakar.
Aku memperhatikan kamarku, melihat sekelilingnya. Kamarku kecil dan tidak ada banyak barang. Aku bukan kolektor perhiasan atau pita-pita, sebagian besar benda yang kumiliki berwarna hitam dan bergambar tengkorak. Bukan tengkorak yang seram berdarah-darah, tapi tengkorak yang kecil, putih dan entah kenapa bagiku terlihat sangat lucu. Bahkan teman-temanku pun iri melihat koleksiku, terutama pria.
Laptop pemberian ibu, tersimpan rapi di tasnya, yang tersampir di dinding kamarku. Laptop yang dulunya pink, tapi aku air brush dengan warna hitam pekat dan ada gambar hantu di depannya. Memikirkannya membuatku mengingat banyak kenangan. Ibu marah besar ketika melihat hasil kreasiku dan Made sepupuku. Hitam bukan warna favoritnya. Walaupun dia suka yang seram-seram, tarot dan sebangsanya. Pink adalah warna hidupnya, warna untuk anak perempuan, warna yang feminism, lembut dan apapun itu hanya membuatku dan Made mau muntah mendengarnya.
Aku merebahkan badanku, kesedihan yang tidak bisa aku keluarkan dan kehilangan yang sebentar lagi bertambah. Sedangkan tubuhku berkhianat karena mataku masih saja menolak untuk mengeluarkan air matanya. Rasanya lelah sekali tidak bisa menangis, aku memejamkan mata, tenggorokanku sakit. Mencoba untuk tidur. Mencoba untuk berpikir kalau ibu masih hidup, dan sedangan memasak di dapur, atau sedang ber hahahihi dengan teman-teman kartu tarotnya.
Rasa dingin bercampur hangat dan kontras tiba-tiba terasa dikamarku, serasa ada yang membelai, tapi aku tidak peduli.
=======II=======
Tubuhku tersentak, ketika mendengarkan ketukan pintu. Apa aku tidur?, kamarku gelap, sedikit cahaya orange mengisinya. Terdengar suara Made sepupuku diluar, menyerukan kalo teman-teman sekolahku datang bermain.
=======II=======
Mall Bali Galleria.
Semua memaksa aku keluar dari sarangku, itulah sebutan mereka untuk kamarku, karena aku suka sekali menghabiskan waktu dengan mendekam di kamar, kalau tidak membaca buku, mungkin browsing situs-situ aneh di laptopku. Walau banyak menggapku aneh karena hobiku, teman-temanku ini tetap setia. Mereka berusaha menghiburku yang sebenarnya sangat agak memaksa. Mereka tau kalau aku tidak bisa menangis dan butuh pelampiasan sehingga mereka membawaku ke Zona permainan yang ada di mall ini.
Hanya bertiga, tapi kami ribut sekali. Lina dan Ngurah yang sebenarnya sepasang kekasih ribut terus. Lina lebih memilih memihak aku, saat aku dan ngurah sedang bertarung tembakan zombie. Tanding basket, banyakan koin hingga duel dance. Semua games kami coba. Hanya bagian memutar bola keberuntungan aku kalah, Ngurah selalu mendapat Jackpot sedangkan aku hanya nilai 5 atau 10. Koin yang terkumpul kami tukar dengan Boneka beruang seputih salju. Setelah itu kami makan di kaki lima.
Aku tidak mau makan di restoran fast food, aku ingin makan di kaki lima karena aku tidak tau kapan lagi bisa makan masakan khas Bali yang sudah membesarkanku.
“Inget e-mail ya!” Lina mengingatkan ku untuk ke sekian kalinya. Mulutnya penuh dengan jukut pelecing kesukaannya. Ngurah yang masih mengunyah makannya hanya mengangguk.
“i-yah. Fesbuk ku masih sama, twitter juga, kalian bisa cek blogku kalo kalian inget aku punya blog” jawabku sambil memutar mata.
Ngurah dan Lina melotot seketika, membuatku memutar mataku sekali lagi. “Ya Tuhan” mereka terlalu takut membuka blogku, karena isinya bukan yang menyejukan mata. Dan mereka juga tidak suka membahasnya. Aku mengabil sup kepala ikanku. Mengisi tenggorokanku dengan bumbu-bumbu khas Bali yang sangat aku sukai.
Setelah makan, kami kepantai Kuta dan menghabiskan waktu kami disana sampai malam.
=======II=======
== NEXT ==
_____________
Yap, emang masih di Bali.. hahaha, gmana? bagus? ah banyak bacot deh gue. ya udh baca aja. dan msh ditunggu komentnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tulis komentar kamu disini ya